Jembatan Cimanis di Kecamatan Susukanlebak Kabupaten Cirebon, putus pada kamis malam. Akibatnya, sekitar 3.500 warga di empat desa dan dua kecamatan di Kabupaten Cirebon terisolir.
Jembatan sepanjang sekitar 50 meter, lebar enam meter, dan setinggi sekitar 30 meter itu menghubungkan Desa Susukanagung dengan empat desa di dua kecamatan. Keempat desa yang terisolir masing-masing Desa Kaligawe, Kaligawe Wetan, dan Karangmangu di Kecamatan Susukanlebak, serta warga di Blok Nagrak, Desa Sedong Kidul di Kecamatan Sedong.
Diduga jembatan yang dibangun pada zaman Belanda itu putus akibat fondasi salah satu pilar yang rapuh dan tergerus air deras sungai Cimanis anak Sungai Cisanggarung, selama musim hujan.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 22.00 WIB waktu itu. Warga pun tidak banyak yang tahu karena saat jembatan itu putus sudah tidak ada aktivitas warga.
“Kamis malam jam 11 ketika saya mau leeat, jembatan ini sudah putus. Tapi untung tak ada korban saat itu,” ungkap seorang warga Wamad.
Kuwu (kepala desa) Kaligawe Entis Sutisna menyebutkan, Jembatan Cimanis merupakan satu-satunya akses warga di empat desa di dua kecamatan tersebut. Jembatan yang putus membuat aktivitas warga lumpuh.
“Terkadang jembatan ini dipakai sebagai akses angkutan bermuatan berat. Memang sejak lama fondasinya sudah rapuh,” katanya di sela mengecek lokasi.
Pihaknya pernah menyampaikan perihal kondisi jembatan tersebut kepada Pemkab Cirebon. Namun belum ada tindak lanjut hingga jembatan akhirnya putus.
Menurutnya, jembatan tersebut pernah ambruk dan diperbaiki pada tahun 1991, akibat salah satu dari dua pilar roboh tergerus derasnya air sungai. Namun ketika itu, hanya pilar yang rusak yang diperbaiki, sedangkan pilar lainnya dibiarkan.
“Pilar yang kala itu tak diperbaikilah yang kini keropos dan membuatnya tak kuat lagi menahan beban,” katanya.
Dia menambahkan, pada zaman Belanda jembatan itu beralaskan kayu dengan besi bordes. Pada tengahnya terdapat rel untuk perlintasan lori pengangkut tebu.
Sementara Kapolsek Susukanlebak AKP Subagyo menyatakan, air sungai deras yang menggerus fondasi jembatan disebabkan hujan yang terus turun selama beberapa hari terakhir.
“Fondasi jembatan ini memang sudah keropos,” katanya.
Untuk mencegah isolasi berkepanjangan, akses warga pun dialihkan. Pejalan kaki maupun kendaraan roda dua dialihkan ke Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, melalui jembatan gantung, warga harus memutar jalan dan menempuh jarak sekitar 6 km.
Sementara roda empat dialihkan ke Sedong, namun hanya bagi kendaraan roda empat berukuran kecil, dan harus menempuh perjalanan sekitar 10 km.
Camat Susukanlebak, Moechlas, berencana menggandeng semua pihak guna secepatnya meminimalisir kejadian tak diinginkan. Pihaknya pun mendata kejadian tersebut guna pembuatan laporan.
Jembatan sepanjang sekitar 50 meter, lebar enam meter, dan setinggi sekitar 30 meter itu menghubungkan Desa Susukanagung dengan empat desa di dua kecamatan. Keempat desa yang terisolir masing-masing Desa Kaligawe, Kaligawe Wetan, dan Karangmangu di Kecamatan Susukanlebak, serta warga di Blok Nagrak, Desa Sedong Kidul di Kecamatan Sedong.
Diduga jembatan yang dibangun pada zaman Belanda itu putus akibat fondasi salah satu pilar yang rapuh dan tergerus air deras sungai Cimanis anak Sungai Cisanggarung, selama musim hujan.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 22.00 WIB waktu itu. Warga pun tidak banyak yang tahu karena saat jembatan itu putus sudah tidak ada aktivitas warga.
“Kamis malam jam 11 ketika saya mau leeat, jembatan ini sudah putus. Tapi untung tak ada korban saat itu,” ungkap seorang warga Wamad.
Kuwu (kepala desa) Kaligawe Entis Sutisna menyebutkan, Jembatan Cimanis merupakan satu-satunya akses warga di empat desa di dua kecamatan tersebut. Jembatan yang putus membuat aktivitas warga lumpuh.
“Terkadang jembatan ini dipakai sebagai akses angkutan bermuatan berat. Memang sejak lama fondasinya sudah rapuh,” katanya di sela mengecek lokasi.
Pihaknya pernah menyampaikan perihal kondisi jembatan tersebut kepada Pemkab Cirebon. Namun belum ada tindak lanjut hingga jembatan akhirnya putus.
Menurutnya, jembatan tersebut pernah ambruk dan diperbaiki pada tahun 1991, akibat salah satu dari dua pilar roboh tergerus derasnya air sungai. Namun ketika itu, hanya pilar yang rusak yang diperbaiki, sedangkan pilar lainnya dibiarkan.
“Pilar yang kala itu tak diperbaikilah yang kini keropos dan membuatnya tak kuat lagi menahan beban,” katanya.
Dia menambahkan, pada zaman Belanda jembatan itu beralaskan kayu dengan besi bordes. Pada tengahnya terdapat rel untuk perlintasan lori pengangkut tebu.
Sementara Kapolsek Susukanlebak AKP Subagyo menyatakan, air sungai deras yang menggerus fondasi jembatan disebabkan hujan yang terus turun selama beberapa hari terakhir.
“Fondasi jembatan ini memang sudah keropos,” katanya.
Untuk mencegah isolasi berkepanjangan, akses warga pun dialihkan. Pejalan kaki maupun kendaraan roda dua dialihkan ke Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, melalui jembatan gantung, warga harus memutar jalan dan menempuh jarak sekitar 6 km.
Sementara roda empat dialihkan ke Sedong, namun hanya bagi kendaraan roda empat berukuran kecil, dan harus menempuh perjalanan sekitar 10 km.
Camat Susukanlebak, Moechlas, berencana menggandeng semua pihak guna secepatnya meminimalisir kejadian tak diinginkan. Pihaknya pun mendata kejadian tersebut guna pembuatan laporan.